DKI Jakarta – Himpunan Mebel Industri juga Kerajinan (Himki) membidik bursa ekspor komoditas furnitur di luar Amerika Serikat (AS) pada tahun ini menyusl besarnya tarif masuk ke Negeri Paman Sam tersebut.
Ketua Umum Himki Abdul Sobur mengemukakan Negeri Paman Sam masih berubah jadi tujuan utama ekspor furnitur, dengan persentase mencapai 53,2 persen.
Angka ini timpang dengan tujuan ekspor furnitur kedua, yakni Jepun yang digunakan cuma 6,04 persen.
"Sekarang, kita bidik ke luar Amerika, teristimewa tempat Middle East (Timur Tengah), yang dimaksud selama ini kan kita konsentrasinya ke Amerika, sampai ekspor kita kan 53 persen. Kita mulai ke Australia, kemudian ke China, ke India, dan juga juga Middle East," kata beliau dalam Jakarta, Rabu.
Sobur menyatakan kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat cukup berdampak pada ekspor furnitur.
Saat ini, barang furnitur yang masuk ke Negeri Paman Sam dikenakan tarif 10 persen atau tarif dasar (new baseline tariff).
Menurut Sobur, importir dalam Amerika Serikat pada waktu ini memilih untuk menunda pengiriman barang hingga mendapat kepastian dari pengenaan tarif yang digunakan baru.
"Kita telah efektif kena 10 persen, nah itu kan merek minta penundaan serta mengajukan permohonan bagi dua (pembayaran tarif) 5 persen kamu (importir), 5 persen kita (eksportir)," katanya.
Sementara itu, Himki juga setuju dengan kebijakan pemerintah untuk melakukan deregulasi terhadap peraturan ekspor dan juga impor, salah satunya adalah persyaratan tiada wajib untuk dokumen V-Legal atau lisensi ekspor komoditas kayu untuk produk-produk furnitur dan juga kerajinan.
Selain itu, Himki juga mengajukan permohonan luas penampang kayu ekspor bisa saja diperkecil menjadi 4.000 milimeter persegi.
Menurut Sobur, ekspor kayu dengan penampang 15.000 milimeter persegi seperti pada waktu ini, sebanding cuma mengekspor unsur mentah.
"Nanti, itu jadi ancaman buat kita, kita nggak kebagian bahan. Karena itu, deregulasi supaya diperkecil penampangnya, malah kalau wajib sampai hilang. Kita semangatnya sudah ada hilirisasi, ke industrialisasi supaya nilai tambahnya tinggi," imbuhnya.
Artikel ini disadur dari Himki bidik pasar ekspor furnitur di luar AS











